DPR minta Pelabuhan Tanjung Perak dibenahi

banner 160x600
banner 468x60

sigit-sosiantomo-surabaya1Anggota DPR RI KomisI V meminta agar pemerintah bergerak cepat membenahi Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya karena bongkar muat barang di pelabuhan tersebut bisa dijadikan andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah bahkan kawasan.

“Sayangnya kondisi saat ini bisa dibilang sudah jauh dari kata ideal. Hal ini paling tidak mengacu pada hasil audiensi Ombudsman Republik Indonesia dan Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) dengan sejumlah asosiasi dan pengusaha terkait keluhan dwelling time,” kata Anggota DPR RI Komisi V Sigit Sosiantomo dalam rilisnya di Jakarta, Kamis (6/2/2014).

Kontainer yang masuk Terminal Petikemas Surabaya (TPS) setiap harinya diperkirakan bisa mencapai 330 boks, padahal yang bisa ditangani hanya sekitar 190 boks.

Itu menyebabkan produksi perusahaan terganggu dan pekerja harus rela menganggur ketika menunggu bahan baku. Di sisi lain, pengusaha atau perusahaan tetap wajib menanggung biaya operasional yang terus berjalan.

Dengan menumpuknya sisa kontainer yang belum diperiksa hingga harus tertahan di pelabuhan, maka waktu pengeluaran kontainer menjadi semakin mundur.

Adanya peningkatan setiap tahun, maka pada tahun ini diperkirakan arus barang, baik internasional maupun domestik akan melebihi kapasitas tampung. Kondisi tersebut jika tidak segera dilakukan langkah strategis untuk mengatasinya akan berdampak pada waiting time kapal yang semakin tinggi.

“Jika kondisi pelabuhan bisa ditingkatkan, tentu segala hambatan distribusi barang bisa dipangkas. Upaya pembenahannya bisa dengan beberapa langkah berbasis revitalisasi, modernisasi dan peningkatan kapasitas,” imbuh dia.

Bila pada 2010 arus petikemas yang masuk baru mencapai 2,407 juta TEU’s, maka pada 2012 telah mencapai 2,849 juta TEU’s atau terjadi peningkatan hampir 10 persen per tahun. Diprediksi pada tahun ini arus petikemas masuk mencapai 3,86 juta TEU’s, terdiri dari barang internasional sebesar 1,82 juta TEU’s dan domestik mencapai 2,04 juta TEU’s.

“Sementara kapasitas tidak bertambah, hanya sekitar 1,45 juta TEU’s pada terminal petikemas internasional dan 1,57 TEU’s pada terminal petikemas domestik. Total terjadi overflow 835 ribu TEU’s,” ungkap dia.

Mengingat kondisi tingkat penumpukan isian lapangan dan waktu tunggu tidak bisa ditoleransi lagi, selain peningkatan kapasitas hendaknya juga dibarengi dengan pembenahan dan modernisasi infrastruktur lain.

Berdasarkan data, waktu tunggu kapal petikemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak saat ini mencapai 33 jam, kapal curah cair domestik 73 jam dan kapal curah kering domestik 31 jam. Sedangkan kapal curah cair internasional 52 jam dan kapal curah kering internasional 31 jam.

Sigit berharap pelabuhan yang menjadi mata pencaharian sekitar 4.500 tenaga kuli bongkar muat (TKBM) ini cepat dibenahi. Jika tidak, kemacetan arus kapal dan barang di Pelabuhan Tanjung Perak menjadi ancaman serius terhadap perekonomian Jawa Timur.

Bahkan, dia menambahkan, bisa menjadi ancaman bagi Kawasan Timur Indonesia mengingat perannya selama ini sebagai pelabuhan pengumpul utama di kawasan tersebut.

“Pemerintah harus fokus melakukan pembenahan pada pelabuhan ini agar kapal pesiar juga bisa dan mau singgah di pelabuhan, seperti di Benoa,” kata dia.

Dengan begitu, menurut dia, akan tumbuh hotel dan wisata lainnya di Surabaya. Dampaknya akan menyerap pemandu wisata yang penghasilannya bisa sepuluh kali lipat TKBM. SINDONEWS

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "DPR minta Pelabuhan Tanjung Perak dibenahi"